Sabtu, 04 Mei 2013

MASIH BELUM CUKUPKAH NYAWA MERENGGANG KARENA MIRAS DAN MINOL ?

MASYARAKAT PAHAM, TETAPI MENGABAIKAN



Data di kepolisian menyebutkan bahwa angka kecelakaan terbesar disebabkan oleh miras. Tidak hanya itu, sekitar 95% kasus kriminalitas sebabkan oleh minuman yang terbuat dari proses fermentasi ini. Kasus pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, dan kerusuhan, konon  setelah pelaku mengkonsumsi minuman keras. Sayangnya sampai sejauh ini belum ada tindakan riil dari masyarakat untuk menghindari miras, seolah-oleh bahaya di depan mata hanya angin lalu, suatu kebetulan atau karena sial semata. Lantas, bagaimana sebenarnya pemahaman masyarakat akan bahaya miras?

Beberapa hari yang lalu terdengar lagi kabar  terjadinya  tiga orang warga tewas setelah overdosis (OD) miras  oplosan, tentu setelah sebelumnya mereka berpesta miras. Aplosan disini adalah miras yang ditambahkan suatu bahan-bahan lainnya, Misal ciu atau arak jowo (arjo) yang dioplos dengan minuman lain. Bahkan ada yang  nekat, menenggak minuman jenis alkohol murni 70 persen dicampur Anggur Cap Orangtua dan Obat Anti Nyamuk. Tak ayal,  satu per satu mereka merasakan kesakitan dan nyeri di lambung kemudian badan lemas dan bahkan berujung kematian. Miras oplosan memang sangat marak di warung-warung di desa. Berbeda dengan jenis yang biasa digunakan di bar/diskotik atau hiburan malam lainnya yang biasanya jenis miras buatan pabrik.







Dari beberapa kasus kecelakaan yang rata rata disebabkan oleh minuman keras, umumnya terjadi pada malam dan dinihari, tentu saja karena  saat itu banyak pengunjung hiburan malam yang pulang dalam  keadaaan mabuk. Pengemudi yang dipengaruhi oleh minuman keras tidak akan  dapat berkonsentrasi saat menyetir, limbung karena mabuk. Sehingga dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Sayangnya, kecelakaan ini justru terjadi pada generasi muda, pemburu hiburan malam. Berita yang marak misalnya kecelakaan maut di tugu tani yang menyebabkan 9 nyawa tak berdosa melayang. Apalagi penyebabkan kalau bukan miras. Dikatakan bahwa si pengemudi sebelum menegak narkoba juga mengkonsumsi  miras. Jika memang mabuk merupakan salah satu penyebab dasar terjadinya kecelakaan, mengapa kita masih menganggap gampang? Padahal sudah jelas miras bukan hanya berbahaya untuk dirinya tetapi juga  penumpang yang ada di mobil itu, bahkan membahayakan nyawa orang yang ada disekitar jalan yang tidak berdosa. Sudah jelas, miras tidak hanya menyebabkan kecelakaan tunggal, tetapi juga membawa nyawa orang lain. Ini hanya satu kejahatan  yang disebabkan oleh miras, belum lagi kejahatan lainnya. Maka tak ada lagi kata yang tepat selain stop miras dikalangan remaja. 

YUK KITA KAMPANYE ANTI MIRAS 


Jika mungkin masih saja ada yang bertanya data-data atau survey valid penyebab kecelakaan terbesar karena miras,  itu sungguh naif. Di Indonesia memang tidak ada penelitian yang khusus mengarah ke sana, namun penelitian di Amerika yakni Lembaga Nasional Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya (NHTSA) telah melakukan studi ke arah itu dengan tema "Prevalence of High BAC in Alcohol-Impaired Driving Fatal Crashes".

Hasilnya  menunjukkan bahwa dari total 10.228 kecelakaan yang menewaskan pengemudinya, 70 persen atau 7.145 orang disebabkan karena pengendara dalam keadaan mabuk. Kadar alkohol di dalam darah mereka menurut NHTSA paling rendah 15 persen atau bisa lebih tinggi. 

Survei juga menunjukkan bahwa kematian saat mengemudi akibat pengaruh alkohol rata-rata terjadi setiap 51 menit dan kejadian paling sering pada malam hari sampai empat kali. Presentasi tertinggi pada usia pengemudi berkisar 21 dan 24 tahun. Hal serupa juga disebutkan oleh peneliti dari pusat studi kejahatan dan keadilan Inggris, ternyata miras lebih berbahaya dari pada heroin, kokain, amfetamin yang secara individual hanya merugikan pemakainya. Adapun miras berdampak buruk tidak hanya pada peminumnya tetapi pada keluarga dan masyarakat banyak.

Sungguh miris,  Keputusan presiden  Nomor 3 tahun 1997  seolah-olah melegalkan/membolehkan  minuman keras kategori A (jenis bir) bebas di produksi, di edarkan dan dijual ke warung-warung, toko dan mini market/super market, sedangkan miras kategori B-C di jual terbatas misalnya di diskotik. Dan sampai sekarang belum  melangkah jauh untuk menganti dengan Undang-Undang Anti Miras.  Apa karena takut  kehilangan pemasukan/pendapatan uang ke kas Negara dari Miras, bahkan Peraturan Daerah yang sudah ada tentang pelarangan  peredaran minuman keras ditangguhkan.

Sahabatku para remaja, kita memang masih muda, mungkin tidak mudah bagi kita untuk berkampanye agar pemerintah segera mengesahkan UU anti miras, namun fakta yang ada, seharusnya membentengi diri kita untuk tidak terlibat  miras, dalam bentuk apapun.  Yuk mari kita mulai kampanye dari diri kita dan lingkungan terdekat, jika kita merayakan pesta dimanapun, kita hindarkan diri kita untuk mencoba miras dan minol. Tidak maukan kalian mati-sia-sia karena miras, sama saja  kalian mati dalam keaadaan jahiliyah, sebagaimana  sabda Rasulullah SAW, “….dan barang siapa yang mati dimana khamr itu ada dalam perutnya, maka ia mati dalam keadaan Jahiliyyah (Hr.Ath-thabaraaniy). Nauzubillahiminzalik.